Arsip untuk Teitan Sports Festival

Teitan Sports Festival: Shizuka VS Satoru

Sehari lagi, alias besok, Teitan Sport mulai dibuka sampai 3 hari ke depan. Itu adalah hari yang ditunggu-tunggu SMP dan SMA Teitan karena selain mereka bisa menjadikan ini ajang kehebatan, karena juga dalam tiga, bahkan lebih, semuanya dispend alias nggak belajar. Dasar anak-anak bodoh.
Klub Sepak bola juga sibuk sekali. Karena mereka-lah yang paling banyak mengemban tugas persiapan ini. Begitu pula dengan Shizuka cs yang merupakan panitianya.
“Kalau gini nggak akan bisa selesai-selesai… Mana, sih, Si Sachin?! Jangan-jangan nyelonong ke mana-mana, ya?!” Gerutu Shizuka nggak jelas tapi maksudnya jelas. Sachin itu Satoru dalam versi Shizuka. Dia kan punya hobi ngubah nama orang lain seenaknya.
“Sato-kun ada di kelasnya, tuh…” jawab Tooya santai sambil memainkan game boy advance-nya. “Tau dari mana?”
“Cuma nebak.”
Shizuka segera meninggalkan Tooya yang sepertinya tidak sadar dengan memasang raut wajah masam. Shizuka memang selalu begitu, sih. Shizuka lalu sampai di depan kelas 2-2. Sebelum membuka seenaknya kelas yang terdiri dari 40 orang itu ia menghela nafas. Entah karena takut bertemu Keiichi atau takut bertemu Daisuke. Cewek kelahiran 31 Agustus itu memang selalu nggak jelas.
“Permisi.”
Tak seorang pun yang ada disana. Sepertinya semua menyebar ke pelosok wilayah Akademi Teito Higashi. Dengan raut wajah kesal yang tak mendapat apapun Shizuka menutup pintu kelas itu meski tak membantingkannya. Padahal lebih baik dibanting.
Shizuka kali ini menuju ke gedung utama yang menjadi pusat Akademi Teito Higashi. Sasarannya kali ini adalah ruang siaran.
“Permisi!” salamnya agak membentak.
“Eh… Shizuka…”
Miyuki ikut klub siaran dan sedang menunggu waktu siarannya tiba. “Michan… Aku… pinjam ruangan ini sebentar, ya?!”
“Bu… Buat apa?!”
“Mau manggil Sachin!!!”
Shizuka langsung merebut microphone yang tadinya dipegang Miyuki dengan sigap. Sejenak memandangi tombol-tombol nggak jelas yang ada di ruangan itu dan…
“Micchan… tolongin, dong…”
“Makanya. Jangan main rebut aja…”
Satoru berjalan di lorong lantai 3 SMP Teito Higashi sambil membawa map-map biru berisikan berkas-berkas dan formulir pendaftaran anggota baru klub sepak bola dengan lunglai. “Alah… Susah juga jadi pengurus, ya… belum lagi jadi panitia Teitan Sports… kalau aku nggak cepet balik, pasti Shizuka marah-marah, nih…”
“Untuk Naomi Satoru-kun ditunggu kehadirannya di ruangan klub sepak bola sekarang juga!!!!”
Satoru diam setelah pengumuman yang pasti terdengar sampai ke pelosok wilayah Akademi Teito Higashi. Lalu berjalan seperti biasa lagi. “Sudah kuduga, kan,” gumamnya pelan.
“Haaaah! Lega, deh,  setelah teriak manggil Sachin! Oke, makasih, ya, Micchin atas bantuannya. Aku doain supaya jadian sama Makizawa-kun, deh!” Shizuka lalu berlari ke luar ruangan klub siaran meninggalkan Miyuki yang terbengong-bengong dan sepertinya AKAN TERUS menjadi batu.
Shizuka berlari di lorong gedung utama Akademi Teito Higashi meskipun sebenarnya nggak boleh. Darurat, katanya. Ia berlari menuju pintu belakang gedung yang luasnya 15 km x 14 km itu. Halah, pake perincian segala.
Langkah kakinya berhenti. Matanya mulai memajam dan alisnya merenggut. Di hadapannya saat ini ada Satoru yang membawa kertas-kertas yang tadi sudah dijelaskan. Setetes keringat turun dari pipi Satoru yang terbelalak melihat Shizuka di hadapannya. Entah kenapa dan sejak kapan semuanya jadi takut sama Shizuka.
“Sachin! Darimana aja kamu!”
“A… Aku?! Ngambil formulir dari kelas satu! Jujur!”
“Aku percaya, kok. Tapi, kamu setelah itu keluyuran lagi, kan, kemana-mana?”
“Ke… Keluyuran apaan?! Kamu mah pikirannya negatif melulu! Kalau masih kecil udah kayak gini, nanti cepet tua, loh!”
Badan Satoru tiba-tiba gemetaran. Matanya terbelalak lagi. Hawa membunuh muncul…
“Aho!!!! Shizu-chan, Sato-chan!!!!”
Oke, yang ini ternyata milik Hinata yang datang menyapa sambil memukul punggung Satoru keras-keras. “Adaw… Aku bisa skoliosis, nih!”
“Eh? Kok dua-duanya hening, sih? Jangan-jangan aku datang di waktu yang salah, ya?”
Dua-duanya mengacuhkan Hinata dan tentu saja nggak mendengarkan perkataannya.
“Ah, sialan,” seru Hinata pelan, “mendingan aku beli Limited Edition Chocolate Pudding aja, deh! Nggak peduli sama Teitan Food Battle besok!” lalu meninggalkan keduanya yang sedang dalam pertandingan dingin dengan kesal.
“Orang ketiga udah pergi. Sekarang, cepet ngaku, deh. Kalau kamu bener, pasti nggak akan selama ini!!”
Keduanya kali ini menjadi geram. Siapapun yang melewati keduanya pasti akan merasakan gerah karena kemarahan keduanya tercampur menjadi satu.
“Kudo Shizuka! Naomi Satoru! Kalian menghadap Ibu di ruang guru sekarang juga!!!”
Shizuka dan Satoru terdiam gemetaran. Ayuka-sensei, guru kesiswaan bagian SMP memergoki mereka sedang berantem. Tapi kan nggak ada peraturan yang melarang pertarungan mulut di tempat itu.
“A… Anu, Ayuka-sensei. Kami kan nggak berantem fisik…”
“Emang. Tapi kalian bikin kesalahan masing-masing satu! Pokoknya ikut ibu ke ruang guru dan akan dijelaskan semuanya disana!” Ayuka-sensei menarik, sebenernya, sih lebih tepatnya menyeret tangan kedua murid kelas duanya.
“Kudo Shizuka. Kelas 2-5, anggota klub sepak bola sebagai wakil pengurus tertinggi. Kesalahan kamu adalah menggunakan microphone ruang siaran tanpa minta izin kepada saya!”
“Glek!” Shizuka menelan lidah. Ya, memang itu yang dilakukannya tadi. “Kok ibu bisa tau itu saya?”
“Suara kamu itu sangat khas. Suara murid-murid disini terciri oleh saya!”
Shizuka diam. Menunduk lalu memutar-mutar jari. Satoru hanya tertawa kecil.
“Naomi Satoru. Kelas 2-2, juga anggota klub sepak bola sebagai panitia pengurusan pemasukan anggota baru. Kesalahanmu adalah membelok dari tugas yang diberikan. Padahal yang lain sedang mengemban tugas berat, tapi kamu malah keluyuran.”
“Lha?! Kok Ibu tau kalau saya keluyuran?!”
“Berarti tuduhanku itu tepat, ya,” gumam Shizuka melirik Satoru sambil terkikik-kikik.
“Yang memberitahu adalah Kazuki Hinata dan Hidaka Rui.”
“Ekh! Sialan, Hinata, Hidaka-san!!!” Satoru berteriak di dalam hati bertekad membalas dendam.
“Hatchi!!!”
“Lho? Kenapa kalian tiba-tiba bersin bersamaan, Hina-chan, Rui?”
“Pokoknya tidak ada bantahan lagi. Ibu akan minta waktu 4 jam kepada Pelatih Kazuya Satoshi untuk menahan kalian disini!”
“Buat apa nahan kita, Bu?!”
“Menyuruh kalian membersihkan ruang depan gedung utama dengan kain pel yang akan diberikan oleh Jouhou-sensei!”
Glek! Keduanya kali ini menelan ludah masing-masing. Membersihkan ruang depan gedung utama?! Itu kan butuh waktu lebih dari 4 jam!!!
“Kalau lebih cepat daripada waktu yang diberikan, kalian akan mendapatkan coklat seperti ini dari ibu!” Ayuka-sensei menunjukan sebatang coklat yang dibagi menjadi dua sambil tersenyum lebar. Lalu meninggalkan keduanya yang tertunduk sedih.
“Hari sial…” Gumam keduanya bersamaan. End

Komentar bertahan »

Teitan Sports Festival: Keiichi & Hinata

Festival olahraga Teito Higashi seminggu lagi akan diadakan. Hal itu adalah yang ditunggu-tunggu bagi Keiichi Morigawa dan Hinata Kazuki. Kenapa? Karena dalam festival olahraga, atau lebih akrab disebut Teitan Sport itu memiliki ajang makan antar kelas, lalu beranjak ke tingkat SD, SMP, dan SMA!!!
“Shizu-chan sama Yuchin mau ngedukung siapa?” Tanya Hinata pelan. “Ya.. yang pasti 100% Hichin!”
Hinata diam. Rasanya, Shizuka yang mengatakan akan mendukung Hinata 100% alias sepenuhnya tidak mengetahui kebenaran yang sebenarnya, kalau Keiichi Morigawa, lawan terberat Hinata dalam makan, juga pastinya akan ikut. “Memangnya Shizu-chan yakin mau ngedukung aku?”
“Eh? Kok tiba-tiba ngomong kayak gitu, sih?” Shizuka bingung. Yui juga ikut bingung. Mereka nggak nyadar kemampuan si cowok tanpa emosi itu.
“Soalnya, Morigawa-kun juga ikut tau! Kalian emangnya nggak pernah tau kemampuan Morigawa-kun yang sebenarnya, ya?” Shizuka dan Yui menggeleng.
“Dia itu… kapasitas makannya nggak terkalahkan… bahkan sama aku. Aku nganggep dia itu sebagai orang aneh sekaligus rival terberatnya! Tapi… emangnya tahun lalu Shizu-chan nggak liat Food Battle tahun lalu, ya? Aku dan Morigawa-kun kan juga ikut, tapi, dia juara pertama!”
“Itu artinya… Hichin juga kenal Kiichi sejak lama, ya….”
“Yah… aku kan dapet tugas dari klub buat ngawasin Teitan Sport.”
“Oke! Rencanaku hari ini adalah mendaftarkan diri sebagai peserta lalu besoknya, aku nggak akan makan kayak orang lagi diet! Jadi lusa aku tinggal kelaperan terus makan banyak, deh!” Hinata nyengir-nyengir lalu pergi meninggalkan Shizuka dan Yui yang masih terbengong-bengong dengan tingkah laku Hinata tersebut. “Yuchin… aku punya pemikiran lain yang gila… Hichin itu ketularan virus anehnya Keechi…” Shizuka lalu menarik tangan Yui ke kantin.
Hinata berjalan di koridor lantai dua gedung SMP Teitan. Tujuannya hanya ingin ke kamar mandi khusus kelas dua. Perlahan di melewati ruangan kelas 2-1, 2-2, dan 2-3. “Oi, Kazuki!” seseorang memanggil Hinata yang tampaknya dari belakang.
“Mo.. Morigawa-kun… baru datang 2 jam setelah sekolah masuk? Memangnya boleh, ya?”
“Nggak, sih. Tapi kan karena sekarang ini Teitan sedang sebuk mempersiapkan Teitan Sport jadinya nggak ada yang nyadar, hehehe…”
Hinata tersenyum. Orang seaneh ini pun ternyata santai banget, ya. Dan kayaknya nggak punya beban. Jadi iri..
“Terus, ada perlu apa Morigawa-kun sama aku?”
“Nggak. Cuma menyapa karena kamu adalah seorang teman dari Shizu-chan!”
“Nggak ada hubungannya, tau! Atau… jangan-jangan… kamu… sama Shizu-chan… KYAAA! So sweet!!!” Hinata berteriak.
“Jangan keras-keras, deh. Aku kan Cuma temenan sama Shizu-chan. Sedangkan kamu adalah orang yang merupakan cewek yang dipercaya Shizu-chan!”
“Emangnya ada hubungannya? Antara aku yang dipercaya sama kamu yang jadi bahan omongannya?”
“Ada, dong! Jadi kita bisa saling berbagi apa aja yang udah diomongin Shizu-chan sama kamu! Lagipula, kita ini sama-sama orang yang merupakan mantan anggota klub sepak bola, kan?”
“Itu sih… kamunya aja yang ingin tau urusan orang lain!” Hinata lalu pergi menuju lantai dasar gedung SMP Teitan.
“Kita…. Bakalan jadi saingan di Food Battle Sport Teitan, kan?” Keiichi nyengir. Hinata lalu menghentikan langkahnya. “Eh?”
“Kalau kamu nggak mau bekerja sama denganku.. aku nggak akan kasih kamu rahasia porsi makanku yang banyak… hehehe..”
“Hinata diam tidak menjawab usulan Keiichi. Tangannya digenggam seperti mau ngebogem. Setetes air yang tidak lain adalah keringatnya keluar dari pipinya.
“Oke! Kita sepakat! Tapi, jangan bilang-bilang Shizu-chan tentang ini, ya!!!” Hinata sekali lagi berteriak sambil membalikan badannya lalu memberikan acungan jempol. Sambil tersenyum, Keiichi juga melakukan hal yang sama, “sepakat!”
Sementara itu, di ruangan klub Sepak bola Teitan, Shizuka duduk terpaku di kursi yang terletak di tempat itu. Tangan kanannya memegang kepala sedangkan tangan kirinya tidak digunakan dan hanya bergelantung. Entah apa yang dipikirkannya, mungkin soal Hinata?
“Hichin.. memang hebat..” ucapnya sambil menyipitkan mata. Yui kebetulan mau mengambil sesuatu masuk ke ruangan yang sedang sepi itu.
“Shichin sedang apa sendirian disini?”
“Akh! Yuchin! Sejak kapan ada disini?” Shizuka kaget campur malu.
“Sejak kamu menyipitkan mata. Lagian aku kan buka pintu klub. Masa nggak nyadar?” Shizuka menggeleng.
“Ya sudahlah. Aku pergi lagi, ya ada kelas satu mau main bola, nih.” Yui lalu menutup pintu klub. Shizuka Cuma diam memandang. Lalu berakhir dengan ambruknya Shizuka di meja klub yang terbuat dari kayu itu.
“Morigawa-kun!” panggil Hinata. Sejak kesepakatan tadi sepertinya Keiichi dan Hinata lebih akrab. Aneh, ya orang aneh ketemu orang nggak normal… “Apa?” Keiichi berbalik.
“Sekarang, kasih tau aku rahasia kamu itu! Nanti aku kasih tau apa aja yang Shizu-chan bicarakan selama ini!”
Keiichi menangguk lalu menarik tangan Hinata ke suatu tempat, yang tidak lain adalah balkon gedung SMP Teito Higashi di lantai dua. Dasar bodoh.
“Mau tau rahasianya?” Hinata menangguk. Keiichi malah nyengir. “Eh? Apaan, sih, nyengir-nyengir?”
Naik darah..
“Santai aja.. kamu juga belum ngasih tau tentang Shizu-chan, kan?”
“Kok kamu semangat banget tentang apa yang dibilangin sama Shizu-chan? Ja… jangan-jangan..”
“Apa lagi, nih?”
“Kamu sama Shizu-chan….” Hinata menangkat tangannya, “Iiiih… so sweet!!!!” lanjutnya sambil teriak.
“Kamu bisa diam nggak, sih?”
“Nggak! Hehehe!”
Mereka berdua tertawa. Nggak jelas ketawa karena apa, tapi… “Keechi… Hichin…” seseorang menapa-kan kakinya di lantai balkon yang dibuat dari metal. Orang itu adalah Shizuka…
“Shi… Shizu-chan?!”
“Jangan-jangan kalian…”
Keduanya kaget, tahu apa yang akan dikatakan oleh Shizuka yang men-unduk.
“Enak aja! Aku sama Morigawa-kun nggak ada apa-apa, tahu!” Hinata berteriak.
“Wah, masa, sih? Bukannya aku sama kamu ada yang lagi…”
“Bego!” potong Hinata.
“Pokoknya! Aku sama Morigawa-kun Cuma ngobrol biasa, kok!”
“Oh, nggak apa-apa, kok, aku nggak akan ngeganggu kalian berdua yang lagi asyik.” Shizuka lalu pergi meninggalkan Keiichi dan Hinata.
“Shi.. Shizu-chan! Jangan salah paham dulu! Aku sama anak aneh ini nggak ada apa-apa!!!!!”
“Bukannya kita ada yang lagi dibicarain?”
“Orang bego macam apa, sih, kamu ini?! Shizu-chan!!!!!” Hinata terus berteriak sambil lari-lari mengejar Shizuka yang juga dikejar Keiichi. Sudahlah. Benar-benar sekolah normal dengan murid-murid abnormal.. End

Komentar bertahan »